REDAKSI MERAH, Palangka Raya - Di tengah rendahnya minat baca
masyarakat Kalimantan Tengah, sebuah gerakan literasi akar rumput muncul
sebagai ruang belajar publik yang tumbuh dari kepedulian warga. Komunitas
Pensil Kita, yang rutin hadir pada gelaran Car Free Day (CFD) Jalan Yos
Sudarso, menghadirkan Gerobak Buku sebagai wadah membaca, bercerita, dan
berinteraksi bagi anak-anak dan keluarga setiap minggunya.
Penelitian lapangan yang dilakukan
mahasiswa Sosiologi Universitas Palangka Raya, Marisa Marbun, mendapati bahwa
kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang membaca, tetapi juga ruang
sosial tempat relawan, anak-anak, dan orang tua saling terhubung dalam
aktivitas literasi yang inklusif dan menyenangkan.
Marisa
tidak bekerja sendiri. Ia didampingi oleh Hamudi Yusuf, mahasiswa pendamping
penelitian yang turut melakukan observasi, interaksi, dan penguatan analisis
lapangan.
Minat Baca Rendah, Ruang
Publik Menjadi Alternatif
Data sektor perpustakaan tahun 2023
menunjukkan minat baca masyarakat Kalteng masih tertinggal. Dari 1.576
desa/kelurahan, baru 792 yang memiliki perpustakaan. Dampak pandemi juga
menyisakan persoalan kemampuan membaca pada beberapa siswa SD.
Dalam kondisi tersebut, Pensil Kita
hadir sebagai ruang literasi alternatif yang bisa diakses siapa saja, tanpa
syarat dan tanpa biaya.
Menurut
Marisa, kegiatan literasi berbasis komunitas “membangun kebiasaan membaca
melalui pengalaman sosial bukan lewat instruksi kaku, tetapi kedekatan
emosional dalam aktivitas bersama.”
Menurut
Hamudi Yusuf Mahasiswa Sosiologi: Literasi Harus Hidup di Tengah Warga
Hamudi
Yusuf melihat Pensil Kita sebagai contoh nyata bahwa literasi dapat tumbuh kuat
ketika dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
“Literasi
akan hidup ketika ia menyatu dengan ruang sosial masyarakat. Di CFD, buku dan
anak-anak saling bertemu dalam suasana bebas, hangat, dan humanis. Inilah
bentuk pendidikan yang sering hilang dalam struktur formal,dan dari komunitas
inilah yang dapat dijadikan contoh untuk daerah-daerah lain, seperti Pangkalan
Bun atau daerah sekitar,” ujarnya.
Hamudi
menyebut komunitas ini sebagai modal sosial, yakni kekuatan yang muncul dari
kepercayaan dan solidaritas antarwarga. “Gerakan seperti ini bertahan bukan
karena anggaran besar, tetapi karena keinginan bersama untuk menjaga
pengetahuan tetap hidup.”
Interaksi Sosial sebagai
Fondasi Literasi
Dalam pengamatannya, Marisa menemukan
bahwa interaksi antara relawan, orang tua, dan anak-anak membentuk makna baru
tentang membaca: bukan sebagai kewajiban, melainkan aktivitas bersama. Buku
menjadi medium kedekatan, dan relawan menjadi inspirasi bagi anak-anak.
Hamudi memperkuat temuan itu. “Membaca
di sini bukan hanya tentang teks, tapi tentang hubungan sosial. Anak-anak
membaca karena mereka merasa diterima.”
Gerakan Pensil Kita memperlihatkan
bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari aktivitas kecil yang dilakukan dengan
hati dan konsisten. Baik Marisa Marbun maupun Hamudi Yusuf sepakat bahwa gerakan
literasi publik seperti ini adalah investasi sosial penting karena dari ruang
sederhana inilah anak-anak membangun imajinasi, menemukan kegembiraan membaca,
dan masyarakat belajar kembali bahwa literasi adalah milik semua. (Hamudi Yusuf/UPR)
Editor : Hafid Rizki

Posting Komentar