Kolaborasi UPR–Kahui Pulihkan Hutan Kerangas Melalui Aksi Reforestasi

 


REDAKSI MERAH, Palangka Raya - Sabtu 1 November 2025 Mahasiswa Sosiologi Universitas Palangka Raya Melakukan kegiatan pengabdian masyarakat berbasis reforestasi Bersama pihak KTH Kahui atau Kalimantan Hutan Itah yang berlokasi di Km 38 jalan Tjlik Riwut. Gerakan reforestasi dalam konteks ini dimaknai sebagai upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola hutan dan memperkuat kapasitas masyarakat. Reformasi tersebut tidak hanya berorientasi pada perubahan sistem pengelolaan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran kolektif, kemandirian, dan solidaritas masyarakat dalam menjaga hutan sebagai ruang hidup bersama.

 

Warga di kawasan KM 38 Kahui sebagai fokus utama. Masyarakat di daerah tersebut memiliki peranan penting dalam upaya menanam kembali hutan demi keberlanjutan lingkungan dan masa depan generasi berikutnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat bersama mahasiswa dapat Ikut terlibat dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan melalui aktivitas reforestasi atau penanaman kembali area hutan yang telah mengalami penebangan. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan bagi generasi mendatang. Membangun hubungan yang harmonis antara komunitas, masyarakat, dan mahasiswa dalam usaha pelestarian lingkungan. 

 

Lokasi tempat penanaman disebut dengan kerangas yang dikenal dengan tanah yang sangat miskin unsur hara dan asam. Sebutan kerangas berasal dari bahasa Dayak Iban yang berarti "tanah yang tidak dapat ditanami padi".


Karena melihat kondisi tanah ini, maka sebagai sarana agar bibit dapat tumbuh Kahui menggunakan kompos block. Pembuatan kompos blok ini sama dengan kompos pada umumnya, hanya saja ketika kompos sudah jadi maka akan ditambahkan gambut sebagai bahan perekat agar kompos dapat terbentuk kemudian kompos akan dikeringkan dibawah matahari agar mengeras.


Foto 2 : Kompos Blok

Sebelum melakukan penanaman akan dilaksanakan pemilihan bibit terlebih dahalu Karena tidak semua bibit bisa di tanam. Binit yang layak di tanam memiliki ciri-ciri yaitu memiliki 3 pucuk daun yang bagus. Setelah melakukan pemilihan bibit, bibi akan di sebrangkan menggunakan pelampung

 

Salah satu kendala dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah proses menyeberangi sungai. Karena area penanaman berada di sisi seberang, bibit pohon harus dipindahkan dengan bantuan pelampung agar dapat dibawa melewati sungai.

 

Kegiatan penanaman dilakukan dengan terlebih dahulu menggali lubang pada tanah. Setelah itu, kompos blok ditempatkan ke dalam lubang yang sudah dibuat. Bibit pohon kemudian dikeluarkan dari polybag, diletakkan ke dalam kompos blok, dan ditutup kembali dengan tanah.


Kegiatan reforestasi bersama KTH Kahui dapat dikatakan berlangsung dengan baik dan berhasil mencapai tujuan utamanya. Program ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, mempererat kerja sama antara mahasiswa dan kelompok pengelola hutan, serta memberikan dampak nyata bagi pemulihan lingkungan melalui penanaman bibit lokal di area bekas galian pasir. Keberhasilan tersebut tidak hanya terlihat dari terselenggaranya proses penanaman, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman serta keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan sebagai ruang hidup yang memiliki manfaat jangka panjang. (Farhan Adhim/UPR)




Editor : Hafid Rizki

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama