REDAKSI MERAH, Palangka Raya – Kolaborasi
Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah se-Kota Palangka Raya gelar
diskusi terbuka untuk memperkuat pengetahuan akan sejarah yang telah lampau. Diskusi
digelar pada pukul 19.30 WIB dengan nama DISKUMA (Diskusi Malam) di Halaman
Rektorat Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Palangka Raya pada 28 November 2025.
Diawali dengan adanya keputusan
yang menyatakan bahwa Presiden ke-2 Republik Indonesia Jendral Besar TNI
(Purn.) Haji Muhammad Soeharto diresmikan sebagai pahlawan nasional, hal ini melahirkan pro kontra yang serius
dikalangan akademisi, dengan pertanyaan layak atau tidak Soeharto untuk
menyandang gelar tersebut.
Dalam diskusi ini, banyak
melahirkan perdebatan, ada pihak yang mengaku bahwa Soeharto cukup layak untuk
menjadi Pahlawan, tidak sedikit juga yang menyatakan ketidaksepakatan. Akan tetapi,
diskusi yang digelar malam itu bukan untuk mencari siapa yang pro dan kontra
apalagi untuk melahirkan perpecahan, diskusi yang digelar bertajuk Hari
Pahlawan itu diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan kritis agar setidaknya
setiap kader melek terhadap sejarah yang telah lampau.
Founder Gerakan Titik Nol
Hegemoni Hengky Kurniawan menyatakan bahwa diskusi ini merupakan diskusi yang
pertama kali digelar pasca Perkaderan Utama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dengan
demikian, duskisi ini diikuti oleh para Kader-kader baru Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah sebagai bentuk penguatan pengetahuan kebangsaan.
Diskusi diawali dengan 2 pemantik
yang memberikan opini pembuka untuk memberikan pancingan agar diskusi semakin
meriah dan kaya akan gagasan.
Akhmal Raihan selaku pemantik 1
mengaku bahwa Soeharto tidak hanya membuat Indonesia dikenal sebagai Macan Asia,
akan tetapi juga mengangkat ekonomi dalam negeri.
“Prestasi Soeharto tidak hanya
menjadikan Indonesia sebagai macan Asia, juga sebagai Bapak pembangunan, ini
ditandai dengan masifnya pembangunan pada kepemimpinannya yang juga menjadi
salah satu faktor naiknya perekonomian dalam negeri” Tegas Raihan.
Pun demikian, Muhammad Candra
selaku Pemantik 2 mengaku bahwa Soeharto kurang layak apabila diberikan gelar Pahlawan
Nasional, ia memandang gelar tersebut terlalu dipaksakan sehingga terkesan
seperti permainan kepentingan yang dibuat-buat. Ditambah track record Soeharto
yang kurang baik jika disangkut-pautkan dengan kasus pelanggaran HAM.
Dengan terselanggaranya diskusi
terbuka ini, Pimpinan Komisariat IMM se-kota Palangka Raya memiliki harapan
terhadap para kader dan anggota agar tak hanya memahami sejarah sebagai
rangkaian peristiwa masa lalu yang hilang begitu saja. Akan tetapi juga sebagai
pijakan kritis dalam membaca dinamika kebangsaan hari ini. Melalui ruang dialog
yang sehat dan argumentatif, para peserta diharapkan terus menumbuhkan tradisi
intelektual yang berkeadaban, sehingga IMM akan tetap menjadi gerakan mahasiswa
yang mampu menyuarakan kebenaran dengan dasar pengetahuan dan intergritas. (Al-ayubi/RM)
Editor : Hafid Rizki

Posting Komentar